Esensi Kopi Manusia
Oleh: Andi Sumangelipu
Biji kopi memang tidak mudah berubah. Apapun treatment yang kita lakukan padanya. Esensi kopi senantiasa melekat, meski kita mengubah bentuk wujudnya.
Oleh: Andi Sumangelipu
Biji kopi memang tidak mudah berubah. Apapun treatment yang kita lakukan padanya. Esensi kopi senantiasa melekat, meski kita mengubah bentuk wujudnya.
Oleh: Andi Sumangelipu
Dalam sebuah kisah, suatu ketika seorang Guru menjumpai muridnya sedang membuat fondasi rumah.
Oleh: Andi Sumangelipu
Menghadapi ribu cangkir di depannya tenang juga sigap seorang peracik kopi mengaduk meramu varietas kopi dari ragam penikmatnya. Mata menikmatinya bagai penguasa memancar ketegasan memesona tempias kemuliaan elok memukau gerakan. Mafhum pada semua jiwa dengan memaklumi hasrat penikmat. Meluluskan asa terpanjat melebur dalam kesucian.
Oleh: Andi Sumangelipu
Tahukah anda bahwa kopi itu menyehatkan? Yang paling banyak kita tahu bahwa minum kopi yang berlebihan itu tidaklah baik karena memiliki kandungan kafein yang menyebabkan kecanduan. Namun yang mungkin lebih patut diketahui bahwa apapun yang berlebihan itu tidak baik. Makan kambing yang berlebihan juga bisa menimbulkan mudarat dan penyakit berbahaya bagi tubuh kita.
Oleh: Andi Sumangelipu
Berbicara kopi cenderung berkaitan dengan hal atau orang yang melek atau begadang. Begadang boleh saja asal ada perlunya, begitulah kira-kira pesan-pesan bang Haji Rhoma. Melekisme Kopi. Faham-faham melek dari kopi. Melek dan isme, seperti inilah nasib dua kata ini saya paksakan kelahirannya. Tak apalah, itu istilah saya dan yang penting anda mengerti.
Oleh: Andi Sumangelipu
Ritual ngopi bagi komunitas dan penganut “agama kopi” memiliki tata cara tersendiri dalam menikmati kopi, baik di kesendirian maupun rame-rame (berjamaah). Ada yang menganut bahwa kenikmatan ritual ngopi hanya dapat diraih jika dilakukan rame-rame, sebahagian yang lain lebih memilih untuk melakukan ritual ngopi di kesendiriannya, namun tidak sedikit dari mereka mengaku meraih kenikmatan dengan mengondisikan keduanya. Walaupun berbeda cara, para penganut agama kopi memiliki tujuan yang sama dalam mencari kenikmatan sesuai kondisi psikologis masing-masing.
Oleh: Andi Sumangelipu
Jika harus ada agama baru yang lahir di dunia ini, maka pantasnya agama ini bernama “agama kopi”.
Kenapa agama kopi? Ya, karena saya sebagai sahibul hikayat yang lahir di Indonesia maka bahasa yang saya gunakan tentu Bahasa Indonesia sebagai bahasa kaum saya. Andai saya lahir di Arab pastilah namanya akan menjadi agama qahwah.
Oleh: Andi Sumangelipu
Agama dan Kopi sama-sama melahirkan “kenikmatan”. Kenikmatan Kopi bergantung pada kepiawaian sang Barista, seperti kebergantungan kenikmatan agama pada kehandalan para pemimpin Spiritual. Keduanya harus mampu meracik ragam kenikmatan. Tersaji dalam kehangatan (kopi panas), atau terhidang dengan kesejukan (kopi dingin).
“Musang?” Wang Lin tercengang. Orang pertama yang terpikir olehnya yang mungkin cocok dengan deskripsi itu adalah murid berpakaian kuning yang menertawakannya, namun, dia tidak yakin.
Pria tua berwajah merah itu mengerutkan kening karena tidak puas dan berkata, “Penatua Li, apakah Sekte Heng Yue kita benar-benar akan jatuh serendah itu? Membuat pengecualian untuk hidup dan mati seorang manusia?