Filosofi Menuang Kopi
Oleh: Andi Sumangelipu
Dalam sebuah kisah, suatu ketika seorang Guru menjumpai muridnya sedang membuat fondasi rumah.
- Guru: “Penuhi wadahmu!”
- Murid: “guru, wadah ini sudah kupenuhi dengan batu.”
- Guru: “itu sama sekali belum penuh, tambahkan lagi dengan kerikil!”
- Murid: “seperti anjuranmu, wadah ini sudah kupenuhi, guru.”
- Guru: “itu hanya nampak penuh, tambahkan lagi dengan pasir!”
- Murid: “seperti anjuranmu, wadah ini sudah kupenuhi, guru”
- Guru: “itu hanya kelihatan penuh, tambahkan lagi dengan bubuk semen!”
- Murid: “seperti anjuranmu, wadah ini sudah kupenuhi, guru”
- Guru: “itu belum penuh”. Sembari sang Guru mendekati lalu menuangkan kopinya ke dalam wadah tersebut. “Nah, ini baru penuh.”

Percakapan di atas sarat dengan simbolisme spiritualitas yang memberikan gambaran bahwa untuk membangun sebuah fondasi rumah yang kuat maka wadah harus dipenuhi material yang solid. Tidak menyisakan rongga sedikitpun dari rongga besar sampai pada rongga yang terkecil.
Tidak hanya itu, kepadatan sebuah fondasi tidaklah cukup mengokohkan, tapi ia juga harus sempurna dengan tuangan kopi (spirit kenikmatan, soul subtance, energi Tuhan).
Wadah merupakan simbolisasi sebuah jiwa. Kekuatan jiwa sangat menentukan kekuatan dan kekokohan sebuah fondasi rumah spiritual manusia yaitu hati. Yang telah dituang di dalamnya nilai-nilai luhur. Jiwa manusia senantiasa berubah-ubah melihat beratnya muatan yang dibebankan padanya. Jiwa yang matang selalu dipenuhi (kaya) dengan nilai-nilai luhur ajaran agama yang hanya terpancar melewati dinding-dinding jiwa yang bening.
Dialog di atas juga menggambarkan keseimbangan dan proporsionalitas. Apapun yang kita kerjakan senantiasa untuk menuangkan kopi (nilai-nilai luhur agama). Ada dua kenikmatan yang harus mengisi hidup selama di dunia, yaitu; kenikmatan duniawi dan ukhrawi. Sebagai manusia, para penganut agama kopi tidak hanya hidup melakukan ritual ngopi semata, tapi ada pula kewajiban yang harus dikerjakan untuk menghidupi keluarga. Para penganut agama kopi yang telah banyak berproses dalam meraih kenikmatan ngopi, akan lebih mudah baginya membawa aroma dan rasa kopi selama bekerja mencari penghidupannya.[i]
Bagi para penikmat kopi apapun kerja dan pekerjaannya dalam hidup ini senantiasa tidak melupakan untuk menuangkan kopi sebagai nilai-nilai luhur agama dalam pekerjaannya itu.
(Cerita ini diinspirasi oleh Kanda Ashari Djadda)
[i] Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan ber-buat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusa-kan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashash, ayat 77)
Sumber:
- Penulis: Andi Sumangelipu
- Judul Buku: Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas
- ISBN: 978-602-177716-0-0
- Penerbit: CV. Aquila
- Tahun: 2013
- Hal: 69-72
Sitasi Apa Style:
Andi Sumangelipu. (2013). Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas. Sengkang: CV Aquila.