Kopi dan Agama
Oleh: Andi Sumangelipu
Tahukah anda bahwa kopi itu menyehatkan? Yang paling banyak kita tahu bahwa minum kopi yang berlebihan itu tidaklah baik karena memiliki kandungan kafein yang menyebabkan kecanduan. Namun yang mungkin lebih patut diketahui bahwa apapun yang berlebihan itu tidak baik. Makan kambing yang berlebihan juga bisa menimbulkan mudarat dan penyakit berbahaya bagi tubuh kita.
Menurut Harvard Women’s Health, konsumsi kopi beberapa cangkir sehari dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2, pembentukan batu ginjal, kanker usus besar, penyakit parkinson, kerusakan fungsi hati (sirosis), penyakit jantung serta menghambat penurunan daya kognitif otak.Sedangkan Seimur Damond, M.D, dari Chicago’s Diamond Hadche Clinic, bahwa kandungan kafein pada kopi dapat mengurangi derita sakit kepala. Penderita sakit kepala atau migran ringan terbukti dapat disembuhkan dengan meminum secangkir kopi pekat. Kopi mengatasi perubahan suasana hati dan depresi. Minum kopi secara teratur sesuai dengan porsinya dapat memaksimalkan kerja otak lebih baik.
Peneliti Edward Giovannucci dari Harvard, dalam riset yang dipublikasikan dalam Epidemiologi Cancer, Biomarkers & Prevention mencatat bahwa kopi memiliki antioksidan lebih dari hampir semua jenis sayuran dan buah. Bahkan, sebuah studi 2005 menemukan bahwa kopi adalah sumber antioksidan nomor satu. Kandungan antioksidan yang terdapat di dalam kopi dapat menangkal kerusakan pada sel otak dan membantu jaringan saraf untuk bekerja lebih baik. Zat kafein dalam kopi berfungsi sangat baik sebagai stimulan pada tubuh kita. Hal ini dapat merangsang indera kita dan meningkatkan laju metabolisme. Sehingga meningkatkan kemampuan dalam berkonsentrasi, mengatasi perubahan suasana hati bahkan depresi.
Melihat manfaat luar biasa dari kopi ini tidak membuat saya menganjurkan anda untuk minum kopi. Tapi yang ingin saya katakan bahwa fungsi agama mestinya berfungsi seperti kopi. Agama hendaknya menjadi penyehat dan penyembuh. Sebagai misal dari salah satu “kopi”-nya agama adalah ibadah puasa.
Saya teringat beberapa teman yang rajin berpuasa Daud. Puasa Daud adalah puasa berkelang. Sehari berbuka, sehari berpuasa. Hari ini puasa, besok tidak, lusa berpuasa besoknya tidak dan begitu seterusnya. Ada yang sudah berpuasa lebih dari 10 tahun tanpa putus, ada yang 7 tahun dan ada yang baru 4 tahun berpuasa tanpa putus. Saya melihat rata-rata mereka memiliki selera makan yang unik. Meskipun rata-rata mereka tergolong orang yang mampu namun selera makannya tidak berlebihan. Saat berbuka nikmat rasanya jika ada kopi dan sepiring goreng-gorengan. Saat berbuka mereka tidak langsung makan, bahkan jadwal makan malam bergeser mendekati tengah malam. Saat ditanya, katanya masih kenyang. Saya hanya bisa menduga bahwa mereka telah terbiasa. Pola makannya menjadi unik. Meski sudah berpuasa sekian lama badan mereka tetap bugar, lebih awet muda dan jarang sakit yang berarti dan tetap melakukan aktivitas mereka sehari-hari. Mereka ada yang karyawan swasta, pengrajin almunium, ada tukang jahit bahkan seorang dokter. Pola hidup mereka hampir sama dalam hal makanan dan minuman. Sederhana.
Salah satu di antara mereka saya memanggilnya pak Haji ALI (Alat-alat Listrik). Sehari-harinya selain berjualan alat-alat listrik juga sebagai tukang jahit. Sebelum saya hijrah kembali ke tanah Bugis di Sulawesi Selatan, hampir dua tahun Pak Haji bertetangga dengan warnet saya di bilangan Jakarta Barat. Hampir setiap hari saya nyeberang ke rumahnya sebelum saya pulang ke kost saya di Jakarta Selatan. Bahkan saya pernah menumpang tidur di rumahnya selama enam bulan lamanya saat malas pulang-pergi ke kost karena sibuk menyelesaikan Tesis saya.
Suatu ketika Pak Haji jatuh sakit, sakit demam yang tinggi. Dan saat itu ia berpuasa. Saat saya tawarkan untuk berobat ke rumah sakit, ia tak mau, katanya sebentar juga sembuh. Lalu saya bujuklah ia untuk berbuka karena saya pikir puasa Daud adalah sunnah dan pak Aji butuh minum obat. Pak Haji juga tidak mau membatalkan puasanya. Katanya suatu amalan hendaknya tidak putus, kalau putus bukan amalan lagi namanya. Alhasil, macam-macamlah Hadits yang saya keluarkan agar ia mau berbuka saat itu. Termasuk saya katakan bahwa Tuhan itu tidak mempersulit hambanya. Lalu pak Haji hanya jawab bahwa itu hanya untuk orang yang jarang puasa saja. Jika sudah niat akad berpuasa atas nama Allah maka tentu siap-siap untuk diuji, begitu lanjutnya. Akhirnya saya pun berhenti “menghasutnya” karena sudah pegel juga rasanya. Menjelang magrib sakit Pak Haji berangsur-angsur pulih dan sehat seperti sediakala sembari tersenyum-senyum seolah-olah menyindir saya.
Dalam hati saya malu sekaligus salut dengan istiqamah Pak Haji. Ia tidak punya teori dan ilmu agama yang macam-macam namun beliau praktisi. Pelaku. Dan saya sadar bahwa selama ini saya hanya penonton yang banyak bicara Hadits dan kutap-kutip ayat sana-sini dan tidak melakukan puasa yang benar. Kalaupun berpuasa hanya Senin-Kamis itu pun terputus-putus. Tidak istiqamah dan kontiniu. Jika ada pesta, kondangan, apalagi sakit pasti menjadi pembenaran agar tidak berpuasa.
Wajar saja jika Rasulullah mengatakan bahwa tidak ada lagi puasa yang utama selain puasa Daud[i]. Bagi Pak Haji selain bernilai ibadah, berpuasa adalah obat dan menyehatkan. Puasa setiap saat dapat menjadi detox bagi tubuh. Bagi kita yang belum pernah melakukan puasa seperti itu tentu lebih mudah menganggap bahwa hadits “puasalah agar sehat” sebagai hadits yang dhaif, namun orang seperti Pak Haji sudah membuktikan bahwa jika ingin sehat maka berpuasalah.
Orang yang menjalankan agamanya dengan benar dan sungguh-sungguh seharusnya membentuk pribadi yang sehat. Pak Haji adalah orang yang sehat karena menjalankan agamanya dengan benar. Ajaran agama berupa puasa, ritual ibadah, zikir, meditasi, bertafakur sepatutnya memberi dampak sehat bagi penganutnya. Sehat jasmani, pikiran maupun rohaninya. Jika tidak, berarti ada yang salah dalam melaksanakannya. Melaksanakan puasa saja sudah cukup menyehatkan, apalagi jika rajin melakukan ritual ibadah-ibadah lainnya. Puasa saja sudah cukup bisa mengobati berbagai macam penyakit (menurut penelitian bahwa puasa mencegah dan menyembuhkan kanker, sakit jantung, stress dan meningkatkan kekebalan tubuh), apalagi ibadah-ibadah lainnya.
Ajaran agama memang seharusnya berfungsi sebagai penyehat dan penyembuh bagi penganutnya seperti halnya kopi. Ya, agama kopi.
[i] Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash Ra, ia berkata: Rasulullah Saw. dikabarkan bahwa aku pernah berkata akan selalu salat qiyam, akan berpuasa pada siang harinya sepanjang hidupku. Kemudian Rasulullah Saw. bertanya: Betulkah engkau pernah bilang demikian? Aku menjawab: Betul, aku pernah mengatakannya, wahai Rasulullah. Rasulullah Saw. bersabda: Sungguh engkau tidak akan mampu melakukan yang demikian. Oleh karena itu berpuasalah dan juga berbukalah. Tidurlah dan bangun malamlah. Berpuasalah tiga hari dalam setiap bulan. Sebab, satu kebajikan itu nilainya sama dengan sepuluh kebajikan. Dan yang demikian itu (puasa tiga hari dalam tiap bulan) nilainya sama dengan puasa satu tahun. Lalu aku katakan kepada Rasulullah Saw: Tetapi aku mampu berbuat lebih dari itu. Beliau bersabda: Berpuasalah sehari dan tidak puasa dua hari. Aku katakan kepada beliau: Tetapi aku mampu berbuat lebih dari itu. Rasulullah Saw bersabda: Jika begitu, berpuasalah sehari dan berbukalah sehari, itu adalah puasa nabi Daud As. dan itulah puasa yang tengah-tengah. Kemu-dian aku berkata: Sungguh aku mampu berbuat lebih dari itu. Rasulullah Saw. bersabda: Tidak ada yang lebih utama dari itu. Abdullah bin Amru Ra. berkata: Aku terima tiga hari sebagaimana yang dikatakan Rasulullah Saw. adalah lebih aku sukai dari istri dan hartaku. (Shahih Muslim No.1962).
Sumber:
- Penulis: Andi Sumangelipu
- Judul Buku: Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas
- ISBN: 978-602-177716-0-0
- Penerbit: CV. Aquila
- Tahun: 2013
- Hal: 51-56
Sitasi Apa Style:
Andi Sumangelipu. (2013). Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas. Sengkang: CV Aquila.