Melekisme Kopi

Oleh: Andi Sumangelipu

Berbicara kopi cenderung berkaitan dengan hal atau orang yang melek atau begadang. Begadang boleh saja asal ada perlunya, begitulah kira-kira pesan-pesan bang Haji Rhoma. Melekisme Kopi. Faham-faham melek dari kopi. Melek dan isme, seperti inilah nasib dua kata ini saya paksakan kelahirannya. Tak apalah, itu istilah saya dan yang penting anda mengerti.

Dulu kopi pernah dilarang untuk diminum. Sampai akhirnya kemudian manusia sadar bahwa kopi bukanlah minuman memabukkan dan sangat membantu manusia untuk beribadah di malam hari sehingga akhirnya dibolehkan.

“Beragama kopi” mengajarkan manusia untuk mengurangi tidur. Zat kafein dalam kopi memiliki fungsi dan mekanisme kerja dalam tubuh bersaing dengan fungsi adenosin. Adenosin sendiri merupakan senyawa yang terdapat dalam sel otak berfungsi membuat orang cepat tertidur. Kandungan kafein dapat memperlambat gerak sel-sel tubuh sehingga tubuh tidak mudah lelah, mengantuk dan muncul perasaan segar.

Lalu kenapa harus mengurangi tidur? Yah, Tuhan itu tidak pernah tidur kok! La ta’khuzuhu sinatun wa laa nauum. Tuhan tidak tidur juga tidak mengantuk. Maka manusia hanya mampu untuk mendekati sifat Tuhan dengan mengurangi tidur. Bukankah manusia diajarkan untuk paling tidak mengikuti sifat-sifat Tuhan? Tuhan Maha Penyayang maka manusia pun berusaha untuk saling menyayangi sesama. Tuhan Maha Pengampun maka manusia pun dituntut untuk saling memaafkan. Begitupun Tuhan Maha Melek maka manusia pun seharusnya dapat mengurangi tidur.[i]

Manusia butuh istirahat bukan berarti butuh tidur yang banyak. Manusia hanya butuh tidur yang berkualitas, bukannya tidur yang lama. Manusia sering sakit jika pola tidur tidak seimbang. Tidak seimbang berarti bahwa pola tidur tidak teratur. Kadang tidur terlalu lama, kadang terlalu singkat. Padahal yang perlu adalah pola tidur yang singkat secara teratur dan terus menerus. Pola yang senantiasa berubah-ubah hanya akan menyebabkan seseorang mudah terserang penyakit. Bagi orang yang terbiasa tidur banyak, mengurangi tidur memang adalah pekerjaan yang berat. Terutama orang-orang yang sudah terpola tidur malam pada antara pukul 20.00-21.00 sampai bangun di waktu subuh. Padahal setelah tidur sedikit di malam hari disunnahkan untuk bangun di malam hari.[ii]

Jadi begadang harus minum kopi? Anda tidak perlu memaksa diri minum kopi untuk bisa melek.  Apalagi jika anda tidak terbiasa dengan kopi. Apapun minuman anda, yang penting adalah mengurangi tidur. Puasa tidur. Jika anda setuju, berarti anda beragama kopi, tidak harus minum kopi. Tapi belajar dari sifat-sifat kopi dalam menjalankan agama.

Dari aspek kesehatan, lebih umum kita mengenal lama tidur yang sehat adalah selama 7-8 jam sehari semalam. Namun sebuah penelitian terbaru di Amerika Serikat bahwa orang yang tidur 8 jam sehari cenderung meninggal lebih cepat. Ini memang sangat kontroversial dengan paradigma lama. Manusia hanya butuh tidur yang berkualitas selama 3 jam dalam sehari-semalam. Ini memang terbukti jika kita melihat orang-orang hebat seperti  BJ. Habibie, Bung Karno, Mahatma Gandhi, Nehru, Margaret Thatcher, Ethnak Eastwaran umumnya tidur hanya 2-3 jam sehari dan tidak mengalami gangguan kesehatan yang berarti dan bahkan mampu memberi pengaruh besar bagi bangsanya dan dunia. Dalam penelitian yang dilakukan American Cancer Society tersebut diadakan selama 6 tahun pada objek penelitian rata-rata berusia 30-102 tahun. Orang-orang yang tidur selama 8 jam sehari memiliki risiko kematian lebih cepat sebesar 12 persen. Orang yang tidur selama 7 jam sehari memiliki risiko kematian lebih cepat sebesar 17 persen. Dan yang tidur 10 jam sehari memiliki risiko kematian lebih cepat sebesar 34 persen. Kripke mengatakan bahwa risiko kematian pada orang yang tidur selama 10 jam sehari, sama dengan risiko kematian pada orang yang kegemukan.[iii]

Ray Meides, seorang peneliti Inggris menyebutkan bahwa seorang wanita berusia 70 tahun berprofesi sebagai perawat menyatakan bahwa dirinya tidur tidak lebih dari 1 jam setiap harinya.[iv] Luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa manusia hanya membutuhkan tidur dan istirahat yang berkualitas, bukan dari lama dan banyaknya tidur.

Rasulullah Saw dikenal sebagai orang yang jarang sakit sampai menjelang ajalnya. Memiliki tubuh yang sehat serta kulit yang bersih. Tidak kurus juga tidak gemuk. Tubuh yang sehat tentu tidak identik dengan tubuh yang berotot, bukan?! Ilmu kesehatan Rasulullah terletak pada pola ibadah dan pola hidupnya yang teratur.

Lalu bagaimana pola tidur Rasulullah Saw? Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an. Apa yang diperintahkan Allah dalam Al-Qur’an, adalah Rasulullah orang yang paling pertama taat melaksanakannya karena beliau adalah suri tauladan manusia. Diri Rasulullah dikenal sebagai orang yang paling sedikit tidurnya di malam hari. Harus diingat bahwa sedikit tidur bukan berarti pola tidur tidak teratur. Keteraturan pola tidur terletak pada istiqamah dan tidak berubah-ubah. Pola tidur Rasulullah terletak pada sedikit dan teratur (terus-menerus).

Kapan pola tidur Rasulullah yang sedikit itu bermula? Pada saat Rasulullah tidur malam hari, maka turunlah ayat berikut:

Artinya: Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (dari padanya). (QS. Al Muzammil ayat 1-2)

Setelah turun ayat di atas, Rasulullah tidak lagi tidur sebanyak sebelumnya. Ayat di atas pernah menjadi wajib pada awal turunnya sampai akhirnya turun ayat 20 yang menjadikannya sunnah muakkad (hampir wajib).

Rasulullah dikenal selalu khawatir kalau sampai membebani umatnya dengan ibadah-ibadah ini. Sehingga ibadah ini disunnahkan saja bagi mereka ingin mendapatkan nilai lebih. Padahal dibalik ibadah-ibadah sulit yang senantiasa dilakukan Rasul Saw adalah sebuah rahasia yang sangat besar bagi yang menginginkannya. Semua ibadah-ibadah berat, dimana memerlukan juhda (jihad) atau effort kuat untuk melaksanakannya, yang pernah dikerjakan Rasulullah (tidak hanya shalat lail) merupakan kunci dari ilmu yang paripurna, ilmu laduni. Yaitu Ilmu manusia menuju paripurna (Insan Kamil) sebagai manusia Taqwa. Salah satunya adalah dengan sedikit tidur. Sebagaimana dijelaskan ayat berikut.   

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air. Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. (QS. Az Zariyaat, ayat 15-17).

Ayat di atas memberikan tariqah menuju Insan Kamil yang taqwa dengan jalan sedikit sekali tidur. Memperhatikan ayat di atas, tidak hanya mengatakan sedikit tidur, tapi sedikit sekali tidur. Jika normalnya tidur 7-8 jam sehari, maka takaran sedikit bisa saja separuhnya yaitu 5 atau 4 jam sehari. Lalu bagaimana jika sedikit sekali? Silahkan dihitung, dikira-kira dan ditakar sendiri.

Rasulullah sendiri senantiasa mengakhirkan shalat Isya dan tidak tidur sebelum Isya. Mengakhirkan shalat Isya ini mendekati separuh malam menjelang waktu-waktu shalat lail. Sehingga disunnahkan bagi yang ingin shalat lail untuk tidur sejenak. Hanya sejenak dan berkualitas.

Tidur yang berkualitas bagi manusia akan menghasilkan tekanan darah lebih stabil, denyut jantung melambat, hormon stres cortisol menurun, dan zat-zat kekebalan meningkat. Begitupun orang yang melakukan ritual malam, shalat malam, meditasi, zikir dapat menghasilkan menghasilkan tekanan darah lebih stabil, denyut jantung melambat, hormon stres cortisol menurun, dan zat-zat kekebalan meningkat.[v] Ini berarti bahwa orang yang sedikit tidur namun diimbangi dengan ritual malam, meditasi dan zikir, dapat mengambil alih sebahagian besar fungsi tidur. Sehingga wajarlah orang yang terbiasa mengurangi tidur serta rajin berzikir atau meditasi di kegelapan malam mampu dan cukup tidur hanya beberapa jam saja, sementara badan mereka tetap sehat bugar bahkan cenderung panjang umur.


[i] “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya ( tidak tidur) dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan.” (As Sajdah, ayat 16).

[ii] “Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (QS. Al Muzammil, ayat 2). Dan selanjutnya: Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. (QS. Al Muzammil, ayat 6). Ayat yang lain: “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air. Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. (QS. Az Zariyaat, ayat 15-17).

[iii] Sumber : http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0201/24/daerah/lang20.htm dan www.akhirzaman.info/kesehatan/102-kesehatan/128-lupakan-tidur-delapan-jam-sehari-.html

[iv] Ahmad Syauqi Ibrahim. Misteri Tidur. Hal. 70.

[v] Taufiq Pasiak. Manajemen Kecerdasan. Hal. 245.


Sumber:

  • Penulis: Andi Sumangelipu
  • Judul Buku: Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas
  • ISBN: 978-602-177716-0-0
  • Penerbit: CV. Aquila
  • Tahun: 2013
  • Hal: 43-50

Sitasi Apa Style:

Andi Sumangelipu. (2013). Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas. Sengkang: CV Aquila.