Sang Peracik Kopi
Oleh: Andi Sumangelipu
Menghadapi ribu cangkir di depannya tenang juga sigap seorang peracik kopi mengaduk meramu varietas kopi dari ragam penikmatnya. Mata menikmatinya bagai penguasa memancar ketegasan memesona tempias kemuliaan elok memukau gerakan. Mafhum pada semua jiwa dengan memaklumi hasrat penikmat. Meluluskan asa terpanjat melebur dalam kesucian.
Seorang peracik tahu setiap tindakannya, mengerti menyapa, menata tawa senda gurau, sedikit aksara terucap, bergelut diam keheningan menyelami luar dalam diri dan kediriannya. Memahami kopi sebagai dirinya sama luas dan dalamnya menikmati kopi senikmat meraciknya, tiada keluh jua kesah. Mengenal kopi dengan semua indra, mengaduk ia merapal, meramu ia memantra.
Begitulah peracik kopi digambarkan. Ia peracik sekaligus juga penikmat. Peracik kopi dalam dunia perkopian disebut juga sebagai Barista. Barista adalah inti poros sebuah warung kopi di mana semua bergantung padanya. Kenikmatan penganut agama kopi tergantung padanya. Tanpa adanya barista yang mumpuni,usaha warung kopi akan mudah hancur dengan sejumlah penikmat kehausan. Begitu banyak barista tapi cuma sedikit yang mumpuni. Seorang barista mumpuni menguasai semua ilmu dan jenis kopi. Tidak hanya menguasai, tapi ia juga ahli meramu, piawai meracik, pakar mencampur, pintar menggiling bahkan membuat beragam jenis kopi. Ia tahu kadar dan jenis kopi yang dibutuhkan penikmatnya. Racikannya menularkan kebaikan dan keluhuran. Aroma buatannya menagih kerinduan. Seorang barista bagai raja bagi dirinya juga semua penikmat racikannya. Tidak ada kuasa atasnya kecuali Sang Pencipta.
Keluhuran budi penganut agama kopi tercermin pada baristanya. Barista yang luhur akan menghasilkan penikmat kopi yang luhur. Pantasnya seorang barista yang andal memiliki keluhuran budi yang tinggi pula. Racikan ilmu agama yang pas, baik pula kadar takarannya.
Barista kopi yang andal mampu mengolah biji kopi sendiri sampai menjadi bubuk kopi yang berkualitas sebelum disajikan. Bahkan kopi buatannya berasal dari biji kopi pilihan yang juga harus berkualitas. Bubuk kopi buatannya dijaga sehalus mungkin dengan proses penyaringan yang ketat sehalus budi pekertinya. Dijaga agar bubuk kopi kasar ikut tersaring, karena bubuk kopi yang kasar bisa melahirkan sifat kasar bagi peminumnya. Keahlian mengolah biji kopi tidak hanya diperoleh dari orang lain tapi lebih banyak ragam jenis kopi yang diolahnya adalah hasil kemenungan dan perenungan.
Sebelum disajikan pun dilakukannya berkali-kali uji coba rasa kopi pada dirinya. Hasil yang bagus kemudian menjadi sebuah kopi yang berkualitas yang siap saji. Berbagai jenis kopi dibuat dalam racikan berdasarkan selera setiap penikmat yang datang juga beragam. Beberapa barista mampu membuat berbagai jenis kopi, tapi kopi buatannya bukan dari biji pilihan hingga kopi buatannya pun hanya nikmat bagi komunitasnya namun bencana bagi penikmat yang lain.
Sebelum menyajikan, hal utama perhatian seorang barista adalah wadah kopinya. Wadah (cangkir, mug, gelas) dicuci dan dibersihkan secara seksama tanpa menyisakan kotoran yang masih menempel di dindingnya. Wadah yang sudah sering dipakai akan digosok sampai betul-betul bersih mengkilap seperti saat masih baru. Sedangkan wadah dalam diri manusia adalah Hatinya.
Bubuk kopi yang sudah siap akan direbus dalam waktu dan kondisi tertentu, lamanya pun tidak bisa terungkap karena masing-masing barista memiliki resep-resep rahasia dalam menyajikan kopi. Proses perebusan kopi ini tidak hanya semata-mata meleburkan kopi sehalus mungkin tapi juga merupakan proses pencucian kopi agar tidak ada jenis-jenis kuman yang masih hidup pada bubuk kopi. Kuman inilah kemudian yang bisa menyebabkan seorang penganut agama kopi menjadi seorang penganut yang brutal, kejam serta menimbulkan huru-hara di warung kopi.[i] Sulit memang mengenali jenis yang seperti ini sehingga dibutuhkan seorang barista yang mumpuni yang bisa mendeteksi dan melihatnya. Kuman kopi yang seperti ini juga tidak bisa dilihat oleh mata lahiriah tapi harus menggunakan mata batin yang tajam yang juga sudah teruji selama bertahun-tahun. Kebanyakan barista yang ada tidak memiliki kemampuan yang seperti ini. Wadah yang bersih menjaga kemurnian pencampuran unsur-unsur kopi di dalamnya. Henyak doa dan mantra mengiringi putaran thawaf penyatuan bubuk kopi dan gula dalam air kehangatan. Sejenak aroma wangi semerbak menyeruak menyibak seluruh penjuru membuai kerinduan bagi penikmatnya. Lalu bagaimana dengan peracik anda?
Mungkin anda pernah melihat di tivi bagaimana seorang peracik kopi atau barista diuji keandalannya tentang segala hal mengenai kopi. Kedua mata mereka ditutup dengan kain hitam agar tidak bisa melihat, sehingga hanya bisa mengenali jenis-jenis bubuk kopi dengan membaui, meraba, dan mencicipi kopi. Kenapa begitu? Ya, karena mereka memang dituntut untuk menjadi orang yang istimewa dalam mengenali kopi. Pandangan mata dianggap tidaklah cukup (mungkin juga tidak perlu) untuk dapat mengenali jenis-jenis kopi. Karena mata kadang menipu. Sehingga para barista andal memang harus dilatih dan dibekali ilmu yang istimewa dibanding para penikmat kopi. Mereka harus mampu mengenali kopi, tidak dari pandangan fisik luarnya (chasing) sehingga mereka perlu menutup mata. Begitupun halnya dalam dunia spiritual.
Dalam dunia spiritual sang “Peracik” adalah para Rasul, Nabi, Tabi’in, Avatar, Kyai, Mursyid, Pendeta, Wali, Rahib, Biksu atau pembimbing spiritual lainnya (termasuk orang-orang yang menyebarkan nilai-nilai luhur agama Tuhan, meski tidak menggunakan atribut-atribut tersebut). Mereka semua dituntut untuk dapat meramu dan meracik ilmu-ilmu agama sebagai ilmu Tuhan kepada umatnya. Racikan mereka tentu harus sesuai dengan latar belakang dan bahasa kaumnya agar pesan-pesan wahyu dapat dipahami secara jelas. Para peracik adalah orang-orang yang istimewa bagi Tuhan. Sehingga mereka pun dijejali ilmu-ilmu “tutup mata” yang dihadiahi Tuhan dalam menyebarkan wahyu. Mereka memiliki kemampuan mata hati yang tajam.
Bagi para Rasul dan Nabi dibekali oleh Tuhan berupa Mukjizat dalam menyebarkan wahyu, dan saya yakin, kita semua tidak akan pernah meragukan apa yang disampaikan oleh keduanya karena mereka adalah para Peracik-peracik “tangan pertama” yang menerima wahyu langsung.
Pada masa kita sekarang ini yang tinggal adalah para peracik-peracik “tangan kesekian” karena sangat jauh jaraknya dari masa kerasulan. Sebutlah mereka diataranya; Kyai, Mursyid, Pendeta, Wali, Rahib, Biksu atau apapun sebutan anda pada pembimbing spiritual lainnya. Mereka dapat kita katakan sebagai warasatul anbiya atau pewaris para Nabi. Mereka semua meracik ilmu-ilmu Tuhan berlandaskan kitab suci yang ada, tergantung latar belakang dan bahasa kaumnya. Sehingga wajar saja jika dijumpai kemudian perbedaan agama, mazhab, tarekat, sekte, golongan, aliran dan sebagainya karena itu semua adalah hasil tafsiran, racikan para pembimbing spiritual yang disesuaikan latar belakang, dan kondisi umat di masanya. Meskipun berbeda-beda, tetap saja mereka adalah sama sebagai para sang Peracik.
Penyebaran agama Islam di nusantara sendiri tidak lepas dari peranan para “peracik andal” baik yang dikenal maupun yang tersembunyi. Mereka menyebarkan agama Tuhan dengan “racikan” mereka sendiri sesuai kondisi masyarakat pada masa itu. Lihat saja bagaimana Sunan Kalijaga meracik ilmu-ilmu agama ke dalam seni wayang waktu itu dalam menyebarkan kalimat-kalimat Tuhan. Masyarakat Jawa diajarkan berdoa oleh Kanjeng Sunan dalam bahasa daerah (bahasa kaumnya) yang dikenal dengan kidung Rumeksa ing Wengi agar doa tersebut lebih mudah diresapi dan dipahami. Begitulah seharusnya tugas seorang peracik. Mereka harus memahami dan menularkan agama melalui kearifan lokal.
Mereka itu adalah orang-orang istimewa (khawas) yang diberikan oleh Tuhan ilmu-ilmu yang istimewa pula. Hanya saja tentu tidak sama dengan keistimewaan para Nabi dan Rasul. Keistimewaan mereka tergantung derajat kedekatannya kepada Tuhan. Selain ilmu-ilmu agama yang dalam, mereka sebagai para “praktisi” andal juga dibekali oleh Tuhan berupa kemampuan yang unik seperti: karamah, kasyaf, ilham, hikmah, firasat yang kadang kita sebut sebagai ilmu-ilmu laduni atau ilmu batin. Itu semua hanya dapat diraih oleh orang-orang yang bersih hatinya. Apakah benar ada ilmu-ilmu seperti itu?! Ya, tentu saja ada.

Ilmu laduni pernah diberikan Tuhan kepada Nabi Khidir As.[i] Ilmu kasyaf pernah dialami oleh Umar Ibn Khattab yang mampu melihat dari jarak jauh kondisi pasukannya yang sedang terdesak. Ilham pernah dianugrahkan kepada ibu Nabi Musa untuk menghanyutkan bayi Musa ke sungai Nil.[ii] Ilmu hikmah dihadiahkan kepada Luqmanul Hakim.[iii] Fira-sat diberikan kepada hati orang-orang yang dekat dengan Allah.[iv] Dan ilmu yang dimiliki Ashif Ibn Barkhaya ketika memindahkan singgasana Ratu Balqis kehadapan Nabi Sulaiman A.s.[v] Semuanya itu dapat disebut sebagai karomah atas kemuliaan mereka di sisi Tuhan.
Di jaman sekarang apakah masih ada yang seperti itu? Ya, tentu saja masih ada. Jika tidak, keseimbangan alam Nusantara akan kacau balau tanpa orang-orang khawas (Khusus). Bencana alam dan kekacauan akan lebih parah yang terjadi dari kejadian akhir-akhir ini. Mereka semua diberikan oleh Tuhan ilmu-ilmu Istimewa. Mereka mendapat “sertifikasi” langsung dari Tuhan, bukan sertifikasi pemerintah. Bukankah setiap seratus tahun diutus seorang yang menjadi pembaharu interpretasi ajaran agama?[vi] Memang sulit mendeteksi langsung kehadiran orang-orang seperti mereka. Mata kepala tidak cukup mampu untuk mendeteksi orang-orang seperti ini. Paling tidak, kita juga harus punya sedikit ilmu “tutup-mata” untuk mengenali mereka. Sebagai masyarakat awam kita jangan mudah terkecoh. Kealiman seseorang tidak bisa diukur dari bentuk fisik dan atribut luarnya saja. Bisa jadi jidatnya ada dua titik hitam tapi ternyata koruptor. Jubahnya panjang ternyata pesulap atau paranormal. Pakai sorban yang lebar ternyata penangkap hantu. Pakai peci ternyata penjual obat atau mungkin “penjual obat”. Oo… iya, hampir lupa kalau di Makassar tukang hipnotis sudah pakai peci haji loh. Sekali lagi atribut dapat saja mengecoh penglihatan kita. Saya katakan ‘dapat saja’ karena bisa jadi benar ada orang khawas yang kebetulan menggunakan atribut seperti itu. Wallahu a’lam.
[i] Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang dzalim.(QS. At Taubah, ayat 47).
[i]“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu laduni dari sisi Kami.” (QS. Al Kahfi, ayat 65)
[ii] “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir serta jangan pula bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembali-kannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang dari para Rasul.” (QS. Al Qashash, ayat 7)
[iii] “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: “ Bersyukur kepada Allah…, dan seterusnya” (QS. Luqman, ayat 12)
[iv] “Takutilah akan firasat seorang mu’min. Sesungguhnya orang mu’min itu melihat dengan Nur Allah Subhanahu Wa Ta’ala.” (HR. Tarmidzi dari Abu Sa’id r.a)
[v] Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab (Zabur dan Taurat): “Aku akan membawa singgasana itu kepa-damu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang-siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An Naml, ayat 40)
[vi] Dari Abu Hurairah Ra bahwa Nabi Saw bersabda: “Se-sungguhnya Allah mengutus kepada umat Islam, setiap seratus tahun, seorang yang memperbarui umtuk mereka (interpretasi) ajaran agama mereka.” (HR. Abu Dawud)
Sumber:
- Penulis: Andi Sumangelipu
- Judul Buku: Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas
- ISBN: 978-602-177716-0-0
- Penerbit: CV. Aquila
- Tahun: 2013
- Hal: 57-68
Sitasi Apa Style:
Andi Sumangelipu. (2013). Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas. Sengkang: CV Aquila.