Penikmat atau Peminum Kopi?
Oleh: Andi Sumangelipu
Ritual ngopi bagi komunitas dan penganut “agama kopi” memiliki tata cara tersendiri dalam menikmati kopi, baik di kesendirian maupun rame-rame (berjamaah). Ada yang menganut bahwa kenikmatan ritual ngopi hanya dapat diraih jika dilakukan rame-rame, sebahagian yang lain lebih memilih untuk melakukan ritual ngopi di kesendiriannya, namun tidak sedikit dari mereka mengaku meraih kenikmatan dengan mengondisikan keduanya. Walaupun berbeda cara, para penganut agama kopi memiliki tujuan yang sama dalam mencari kenikmatan sesuai kondisi psikologis masing-masing.
Seorang penikmat kopi dalam melakukan ritual ngopi lebih memperhatikan hal-hal esensi dalam ritual yang lebih banyak berhubungan dengan substansi ruhiyyah (soul substance). Lebih mementingkan kenikmatan dari pada perdebatan.[i] Lebih mengutamakan toleransi ketimbang khilafiyah. Le-bih mengedepankan ke-khusyu’-an dibanding kekusutan.[ii]
Penikmat kopi sendiri tidak pernah merasa bahwa hanya agama kopi yang bisa memberi kenikmatan hakiki atau kenikmatan sejati. Yang merasa seperti itu pasti bukanlah penikmat kopi tapi tidak lebih dari peminum atau pencicip kopi saja. Ia tahu betul bahwa penikmat susu, penikmat teh serta penikmat yang lainnya pun memperoleh kenikmatan dengan caranya yang berbeda-beda. Semuanya bisa mencapai kenikmatan.
Jika dilihat pada ritualnya, penikmat kopi dikenal memiliki sifat yang dinamis dalam menganut agamanya. Mungkin hari ini minum kopi dingin (kesejukan ritual), besok memesan kopi panas (kehangatan ritual) tergantung dengan kondisi kediriannya (jiwa) saat itu. Para penikmat kopi berusaha mencapai kenikmatan dengan caranya sendiri.
Seorang penikmat kopi sudah mampu merasakan kenikmatan hanya dengan mencium bau aroma kopi. Menghirup aromanya dalam-dalam seakan melenakan sesaat. Kopi pun dicicipinya secara perlahan-lahan dalam tenang (tuma’ninah) kenikmatan terasa lebih meresap dan lebih lama.[iii] Mereka merasa terbuai dalam kemabukan dan terbuai dalam (khusyu’)[iv] kenikmatan ritual ngopi-nya sendiri. itulah agama kopi.
Dalam bahasa Arab, khusyuk atau khusyu’ secara bahasa berarti bersungguh-sungguh dengan penuh penyerahan dan kebulatan hati dalam ibadah. Khusyuk merupakan kondisi jiwa yang tuma’ninah (mutmainnah) atau tenang dalam ritual ibadah. Khusyuk bukanlah merupakan kegiatan mendramatisir suatu rasa, sikap dan kondisi dalam melakukan ibadah agar mencapai konsentrasi sebagai bentuk kesungguhan. Khusyuk dapat dilatih dengan berlaku ihsan, dimana seorang abid menyembah Tuhan seakan-akan melihat-Nya, jika tak mampu maka ia harus yakin bahwa Tuhan melihatnya.[v]
Khusyu’ lahir dari rangkaian panjang sebelum melakukan ibadah itu sendiri. Bagi orang-orang yang senantiasa tuma’ninah dalam kehidupannya sehari-hari akan mudah mencapai kekhusyukan dalam setiap ibadahnya. Khusyu’ tidak serta merta lahir begitu saja saat melakukan ibadah, tapi melainkan sebuah hasil yang timbul dari proses panjang yang merupakan hasil kontemplasi, lakon seorang abid secara terus menerus (dawam)dalam ibadahnya. Intinya yah praktek, bukan bicara.
Dalam ritual ngopi para penikmat kopi akan saling berbagi kenikmatan dengan penikmat lain melalui diskusi, sharing, berbagi tentang ilmu kopi dengan para penikmat kopi lainnya yang semeja (semajlis) dengannya. Keunikannya, ia tidak membatasi dirinya dengan penikmat minuman lain untuk duduk bersama dengannya. Tangan mereka terbuka terhadap orang asing yang datang mengisi kursi kosong yang berada di mejanya meski membawa susu atau kopi susu. Bagi penikmat kopi, tidak ada kekhawatiran terhadap para penganut agama lain.[vi]
Lain halnya dengan peminum kopi yang memiliki sifat monoton. Tidak mengenal jenis kopi panas atau dingin. Sekali menyukai kopi panas maka selanjutnya akan tetap begitu. Tempat yang nyaman untuk melakukan ritual ngopi juga tidak begitu penting, baginya yang penting hanya minum kopi. Minum kopi baginya adalah tujuan utama sebagai pelepas keinginan hawa nafsu minum kopi. Peminum kopi tidak memiliki jiwa seni dalam menikmati kopi. Kenikmatan yang diraih para peminum kopi hanya sebatas tenggorokan saja yang tidak bertahan lama. Sifat para peminum kopi yang seperti ini tidak akan pernah mengenal kopi secara dalam meski mungkin merasa paling mengenal kopi. Tak jarang keributan terjadi antara penganut agama kopi di warung kopi hanya karena perbedaan dalam memahami kopi.
Suatu ketika juga akan kita jumpai seorang penganut agama kopi yang minum kopi dengan hanya sekali teguk. Maka yakinlah orang tersebut bukanlah termasuk penikmat kopi ataupun peminum kopi, tapi ia tidak lebih dari hanya orang kehausan yang tidak mendapatkan air minum apapun ketika dahaganya datang mendera. Hanya merindukan ngopi di saat menemukan jalan buntu, kesusahan, masalah, dan bencana dalam hidupnya. Lalu termasuk golongan manakah kita, penikmat kopi atau peminum kopi? ataukah mungkin hanya haus belaka?
[i] Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang dzalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” (QS. Al Ankabuut, ayat 46).
[ii] Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu (QS. Yunus: ayat 19). Dalam ayat lain menyebutkan: Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepa-da Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali. (QS. Asy Syuura, ayat 10).
[iii] Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (QS. Az Zumar, ayat 23).
[iv] (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya (QS. Al Mu’minuun, ayat 2)
[v] Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata, “Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.” Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.” Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.” Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.” Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.” Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda. Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).” Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menja-wab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata. Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril As datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim) Lihat Dr. Muhammad Faiz Almath, 1100 Hadist Terpilih (1991), h. 26-28.
[vi] Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS.Al Baqarah ayat 62). Ayat serupa dapat dilihat pada surah Al Baqarah ayat 112, 38, 277. Lihat juga QS. Al-Imran 170, QS. Al Maidah 69, QS. Al-An’am ayat 48, QS. Al A’raf ayat 35, QS. Yunus ayat 62, QS. Al Ahqaaf ayat 13.
Sumber:
- Penulis: Andi Sumangelipu
- Judul Buku: Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas
- ISBN: 978-602-177716-0-0
- Penerbit: CV. Aquila
- Tahun: 2013
- Hal: 37-42
Sitasi Apa Style:
Andi Sumangelipu. (2013). Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas. Sengkang: CV Aquila.