Tarekat Agama Kopi

Oleh: Andi Sumangelipu

Ternyata istilah bertarekat masih kurang dipahami dan dianggap aneh oleh sebagian orang. Tarekat dianggap suatu yang ekstrem dalam beragama atau cenderung dianggap menjurus pada perilaku klenik, akan tatapi istilah syariat sudah menjadi lumrah karena istilah ini sering diperdengarkan dari mimbar-mimbar mesjid.

Umpama kita dalam sebuah perjalanan mencari alamat sebuah kedai kopi. Di pertengahan jalan, kita bingung ingin menempuh jalan yang mana. Kita hanya tahu tujuan yaitu kedai kopi, tapi tak tahu arah jalannya. Tentunya kita akan singgah dan menanyakan pada orang sekitar yang tahu. Saat penunjuk jalan yang ditanyai memberikan gambaran alamat bahwa nanti di depan harus belok kanan, lalu belok kiri, dan di sudut jalan tempat yang kita cari, itulah yang disebut syariat. Saat kita bergerak mengikuti petunjuk tersebut maka itu tarekat.     

Tarekat dan syariat memang memiliki arti yang sama dalam bahasa Arab yaitu jalan, namun secara substansi makna berbeda. Ibarat sebuah lautan, syariat itu meluas sedangkan tarekat itu mendalam. Syariat memberikan pemahaman dan tarekat memberikan ajaran. Syariat adalah aturan (teori) dan tarekat itu adalah praktek.

Sadar atau tidak, manusia yang beribadah kepada Tuhan sesungguhnya bersyariat dan bertarekat. Shalat, zakat, puasa, haji itu adalah tarekat[i], adapun hal yang mengatur tata cara shalat, zakat, puasa dan haji adalah syariat[ii].

Semua bentuk agama, keyakinan memiliki syariat dan tarekat masing-masing.

Penganut agama kopi pun bertarekat dan bersyariat. Aturan agama kopi harus terdiri dari air dan kopi adalah syariatnya. Adapun bagaimana cara meminum kopi, cara memegang wadah dalam ritual ngopi, pakai gula atau tidak, dikocok atau diaduk adalah tarekat.

Tarekat lebih banyak berhubungan kepada lakon yang diamalkan. Tanpa amalan lakon juga tidak bisa dikatakan ngopi, begitupun sebaliknya ingin ngopi tapi tak ada air dan kopi. Bahkan seluruh makhluk dan isi alam ini bersyariat dan bertarekat. Pergantian siang dan malam, gerak rotasi bumi terhadap matahari, pergerakan planet dan bintang, pergeseran kerak bumi dan letusan gunung, gerak angin, awan serta sirkulasi hujan, gerak potensial air mengalir, kesemuanya tunduk dan patuh terhadap ketetapan hukum alam (sunnatullah) syariat yang diatur oleh Tuhan kepadanya[iii], dan semuanya bertasbih (tarekat) kepada Tuhan.[iv]


[i] Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah tariqah (tujuh buah langit); dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami). (QS. Al mu’minuun, ayat 17). Dan dalam ayat lain menyebutkan : Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menun-jukkan tariqah kepada mereka (QS. An Nisaa, ayat 168).

[ii] Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. (QS. Al Jaatsiyah, ayat 18).

[iii] Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah mencipta-kan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengiku-tinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (QS. Al A’raaf, 54).

[iv] Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Hasyr, ayat 24).


Sumber:

  • Penulis: Andi Sumangelipu
  • Judul Buku: Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas
  • ISBN: 978-602-177716-0-0
  • Penerbit: CV. Aquila
  • Tahun: 2013
  • Hal: 79-81

Sitasi Apa Style:

Andi Sumangelipu. (2013). Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas. Sengkang: CV Aquila.