Esensi Kopi Manusia

Oleh: Andi Sumangelipu

Biji kopi memang tidak mudah berubah. Apapun treatment yang kita lakukan padanya. Esensi kopi senantiasa melekat, meski kita mengubah bentuk wujudnya.

Jika kita merebus biji kopi di atas tungku yang panas, dalam beberapa menit, apa yang terjadi? Kopi tetap kopi, ia tidak akan pernah berubah. Justru kopi akan memberi keharuman bagi kita. Walaupun kita mengubah wujud kopi dalam bentuk kopi bubuk, lalu direbus ke dalam air yang sangat mendidih sekalipun, kopi tetap saja kopi. Kopi tetap akan memberikan keharuman, apapun perlakuan kita terhadapnya.

Beragama memanglah seperti kopi. Esensi dan eksistensi kebenaran sebuah agama itu tidak akan pernah berubah. Yaitu mengajarkan sebuah nilai-nilai luhur pada manusia menyangkut ketuhanan, kemanusiaan dan seluruh alam. Kebenaran agama adalah kebenaran dari Tuhan yang tidak lekang oleh waktu dan zaman. Kebenaran agama adalah ciptaan Tuhan sebagai wahyu. Tuhan tentu tidak pernah ragu akan Firman-Nya. Kebenaran-Nya sejati dan tidak mungkin bagi-Nya meralat kebenaran yang sudah pernah diwahyukan pada para Rasul dan Nabi yang telah diutus setiap jaman.

Yang membuat kebenaran hakiki sebuah ajaran agama menjadi berbeda adalah manusia. Ya, wajar saja karena kebenaran manusia dibangun di atas opini, tafsir dan persepsi yang berbeda-beda tergantung latar belakang dan kondisi zamannya. Meskipun begitu, sebagai manusia kita jangan melupakan kebenaran hakiki Tuhan jika kebenaran yang telah dipersepsikannya selama ini berbeda-beda. Sehingga memaksakan kebenaran di atas tafsir terhadap orang lain adalah kedzhaliman. Dan harus senantiasa kembali pada esensi kebenaran Tuhan. 

Yang sering terjadi, kebanyakan kita merasa bahwa kebenaran yang kita yakini benar adalah sebuah kebaikan dan mutlak. Dan “kebaikan merasa” ini ingin kita tularkan pada orang lain. Jika seseorang menolak menerima, maka kita ingin memaksakannya dengan alasan demi kebaikan. Kita mungkin lupa, bahwa tindakan memaksa sudah keluar dari nilai-nilai kebaikan itu sendiri. Apalagi kebaikan yang kita tawarkan pada orang lain belum tentu baik bagi dirinya. Jika tak mampu melakukan perbaikan, maka hendaknya tidak melakukan kerusakan dan anarkisme. Jangan gara-gara seseorang tidak menerima ajakan kita dalam kebaikan (dalam persepsi anda), kita memaksanya dengan tindakan kekerasan. Apalagi jika sampai melakukan pengrusakan. Tujuan utamanya adalah memperbaiki, bukan malah merusaknya.

Apapun usaha kita untuk membinasakan kebenaran hakiki Tuhan yang terkandung dalam banyak kitab suci, tidak akan pernah dapat dimusnahkan. Kebenaran hakiki-Nya hanya akan semakin harum dan mewarnai seluruh alam.

Adalah seorang Galileo yang pernah menjadi korban penyesatan (dikafirkan) oleh Gereja pada masanya, karena kebenaran sains Copernicus yang disampaikannya (bahwa matahari sebagai pusat tata surya), bertentangan dengan kebenaran penafsiran Alkitab waktu itu. Sekali lagi dikarenakan penafsiran (yang kebenarannya sementara), dan Galileo harus menerima hukuman pengasingan sampai meninggal dunia. Kini Galileo dikenal sebagai penyumbang terbesar bagi sains moderen. Kecerdasannya telah melampaui jamannya sehingga membuatnya “terpasung”. Bagaimana pun usaha manusia memasung kebenaran yang ada pada dirinya, namun ia akan tetap muncul kembali ke permukaan.

Hal yang sama juga pernah menimpa Syech Mansur Al-Hallaj seorang sufi yang dihukum pancung setelah penyiksaan yang panjang (digantung, dimutilasi kaki dan tangannya, serta disiram minyak dan dibakar) karena dianggap sesat oleh penafsiran mayoritas agama Islam di masanya. Meski begitu, ajaran-ajaran beliau hingga kini justru semakin dicari-cari orang.

Bagaimanapun persepsi, opini dan tafsir yang kita bangun di atas kebenaran hakiki itu, ia tetap akan muncul ke permukaan memberi keharuman yang menunjukkan dirinya sebagai kebenaran sejati Tuhan. Kebenaran yang dibangun atas opini, persepsi dan tafsir sifatnya sementara. Sedangkan kebenaran Tuhan adalah kebenaran yang kekal dan tidak dapat dimusnahkan.

Sikap “kopi” seperti ini tidak hanya berlaku dalam kehidupan beragama. Kita harus mampu menjadi “kopi” di kehidupan kita sehari-hari yang tidak pernah berubah. Apapun perlakuan jaman terhadap diri kita. Baik di lingkungan sosial, kerja, maupun berada dalam kondisi negara yang carut-marut, kita selayaknya mampu menjadi “kopi” sekalipun berada dalam kehidupan yang sedang “mendidih”. Nilai-nilai “agama kopi” selalu dapat menjadi penebar keharuman baik dalam kehidupan beragama maupun dalam kehidupan berbangsa.

Walaupun ada biji kopi yang lahir dari dubur (maaf) hewan, tidak berarti menjadikannya kotor dan tidak pula mengubah statusnya menjadi feses (kotoran) yang tidak berguna. malah menjadikannya bernilai lebih tinggi dibanding sebelumnya. Ya, kopi Luwak. Harganya tinggi dan diminati oleh seluruh penikmat kopi mancanegara. Selalu saya katakan bahwa kopi ya tetap kopi. Ia tidak akan pernah berubah. Biji kopi meski sudah dimakan dan dicerna oleh luwak tetap saja tidak berubah, yang keluar darinya tetap saja biji kopi. Yang lebih aneh lagi orang tetap mau mengonsumsinya karena rasanya justru menjadi lebih nikmat (katanya). Dan yang pasti lebih mahal. Kopi luwak menjadi lebih berharga.

Manusia adalah makhluk Tuhan yang sempurna. Disempurnakan penciptaannya dari tiupan Ruh Tuhan[i]. Ini berarti bahwa ada Tuhan pada diri setiap insan meski lahir dari liang yang dianggap hina sekalipun. Dan Tuhan memuliakan manusia di atas semua makhluk-Nya. Walaupun manusia dibalut oleh kotoran dirinya dengan maksiat, namun Ruh Tuhan yang ada dalam dirinya tidak akan pernah hilang dan berubah, walaupun itu hanya akan nampak jika sudah “dibersihkan” kembali. Semaksiat apapun manusia, ia tetap memiliki “nilai jual” yang tinggi. Sehingga manusia lain tidak dapat begitu mudahnya menghilangkan nyawa orang lain hanya karena berbeda pendapat. “Kopi” yang ada dalam diri setiap manusia tidak akan pernah bisa dihancurkan. Manusia tidak bisa dipisahkan dari Tuhan, sekalipun orang tersebut merasa dirinya tidak percaya pada Tuhan.


[i] Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (QS.Al Hijr, ayat 29)


Sumber:

  • Penulis: Andi Sumangelipu
  • Judul Buku: Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas
  • ISBN: 978-602-177716-0-0
  • Penerbit: CV. Aquila
  • Tahun: 2013
  • Hal: 73-78

Sitasi Apa Style:

Andi Sumangelipu. (2013). Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas. Sengkang: CV Aquila.