Spiritualitas Agama Kopi
Oleh: Andi Sumangelipu
Jika harus ada agama baru yang lahir di dunia ini, maka pantasnya agama ini bernama “agama kopi”.
Kenapa agama kopi? Ya, karena saya sebagai sahibul hikayat yang lahir di Indonesia maka bahasa yang saya gunakan tentu Bahasa Indonesia sebagai bahasa kaum saya. Andai saya lahir di Arab pastilah namanya akan menjadi agama qahwah.
Lalu kenapa harus ‘agama kopi’ bukan ‘agama nongkrong’ atau ‘agama gaul’ saja sekalian?! Begini, lihatlah penduduk di dunia saat ini sebahagian besar telah menjadi penikmat kopi. Ritual ngopi yang mereka lakukan demi memperoleh sebuah ‘kenikmatan’. Saat menikmati kopi mereka nampak khusyuk, mendalam, meresap dengan perasaan bahagia. Sebentuk kenikmatan lahir mengalir dalam diri penikmatnya mewakili rasa syukur pada Tuhan yang tidak dibatasi hanya kenikmatan lidah semata.
Sadar atau tidak, kenikmatan yang mereka rasakan telah melahirkan rasa syukur dalam hati mereka. Rasa syukur itu pasti tertuju pada Tuhan. Dan mengingat Tuhan adalah sebuah tujuan dari ajaran agama. Ini berarti nilai-nilai “kopi” dan agama memiliki kesamaan dalam hal ‘mengingat Tuhan’ dan memberi “kenikmatan”.
Bukan cuma itu, para penikmat kopi mampu hidup berdampingan secara damai dengan penikmat minuman lainnya tanpa perselisihan. Coba anda lihat di warung kopi, dijamin tidak ada orang yang keberatan atau bertengkar gara-gara perbedaan selera minuman. Seorang pramusaji pun tak berhak memaksakan suatu jenis minuman tertentu pada pelanggannya, kecuali sebatas penawaran saja. Ini adalah persoalan rasa dan merasakan. Masalah nikmat menikmati. Kalau sudah begitu, kopi memang layak mewakili nilai-nilai luhur agama karena sama-sama meyakini tidak adanya paksaan dalam beragama dan mampu hidup berdampingan secara damai dengan penikmat lain.
Para penikmat kopi begitu menjamur di dunia termasuk di Indonesia. Kopi meskipun tidak langka namun ia purba. Menurut sejarah, kopi sudah menjadi konsumsi sejak dahulu, kemudian kembali muncul di jaman ini sebagai sebuah trend baru gaya hidup. Kini kopi sudah menjadi demikian canggih, berkembang mengikuti jaman dan bahasa kaumnya. Seperti kita ketahui bahwa agama memang harus mengikuti jaman apapun atributnya.
Bermunculannya banyak warung kopi menandai berkembangnya komunitas ini. Kopi dapat dinikmati semua orang dan kalangan. Miskin atau kaya. Muda atau tua. Penikmat kopi tersebar di berbagai negara dalam komunitas besar. Jumlah penikmat kopi di dunia hingga saat ini diperkirakan sebesar 70% dari jumlah penduduk dunia. Ini berarti cita-rasa kopi diakui, disepakati, diterima dan mampu memberi kenikmatan hampir seluruh manusia di dunia. Nah, suatu kebenaran agama memang harus dapat diterima secara universal. Seharusnya.
Kopi sendiri sebenarnya pertama kali ditemukan oleh seorang penggembala di Ethiopia sejak 800 tahun SM yang dikonsumsi sebagai buah, dua ratus tahun kemudian bangsa Arab mengenalkan kopi pada dunia sebagai sebuah minuman. Kata kopi bersumber dari kata bahasa Arab yang mengalami asimilasi oral yang cukup panjang. Kopi dalam bahasa Arab dikenal dengan sebutan qahwah yang kemudian menular kepada orang Turki dengan menyebutnya sebagai Kahveh. Tidak hanya sampai di situ, kata ini terus mengalami transformasi verbal hingga ke Belanda dengan sebutan Koffie dan terus menyebar masuk ke Nusantara saat masa penjajahan dan rakyat Indonesia mengenalnya sebagai Kopi.
Lalu kenapa sampai harus berandai-andai munculnya agama baru di zaman ini? Sebuah ajaran dan nilai-nilai agama harus mampu memberikan kenikmatan dan kekhusyukan bagi para penganutnya. Agama harus mampu memberikan kedamaian, ketentraman dan kebahagiaan bagi pemeluknya. Bukan sebaliknya. Di zaman sekarang ini yang terjadi adalah sebaliknya. Agama telah dianggap menyulut konflik. Bahkan antar sesama dan se-agama. Semestinya tanpa komitmen, wacana dan segala kaifiyah, nilai luhur agama secara natural diharapkan dapat memberikan dan menciptakan kedamaian dan toleransi. Agama dalam hal ini belum berhasil memberikan kebahagiaan, kedamaian, dan membentuk moral bagi umatnya.
Bagi bangsa Indonesia sendiri, kata agama berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari a (tidak) dan gama (kacau), dari sini diharapkan agama bisa menciptakan ketidakkacauan bagi pemeluknya. Namun yang terjadi saat ini dejure memang agama, defacto malah gama.
Dari aspek psikologi verbal, seorang anak kecil jika diberi kalimat larangan seperti jangan atau tidak, stimuli yang ditangkap cenderung menghilangkan kata negatifnya dan mengikuti kalimat setelahnya. Misalnya: “jangan sentuh!”, maka seorang anak kecil akan menangkap kalimat itu sebagai “sentuhlah!”. Nah inilah mungkin yang terjadi pada bangsa Indonesia yang masih belum dewasa (masih anak-anak) dalam beragama. Saat disuguhkan agama, malah memilih untuk gama.
Sungguh ironis memang, tidak hanya bangsa ini tapi juga setiap negara-negara di belahan bumi ini yang selalu mendengung-dengungkan kaifiyah toleransi antar penganut agama namun sejauh ini tetap saja tidak berhasil. Kenapa? Kerusakan yang diaki-batkan oleh perbedaan agama, keyakinan, kepercayaan, mashab, aliran, tarekat, ideologi atau apa sajalah yang berbau aliran spiritual, jauh lebih besar dampaknya jika dibandingkan dengan kerusakan yang timbul karena perbedaan komunitas, suku, kelompok, partai atau mungkin jenis kelamin.
Agama yang diharapkan dapat memberikan ke-nikmatan, kebahagiaan, dan kedamaian, malah menciptakan ketidaktentraman bagi penganutnya. Jika sudah begini, sehingga sebahagian orang lebih memilih untuk tidak memilih agama. Sehingga jika ditanya tentang agama, seseorang akan merasa nyaman jika menjawab “i’m not religious but i’m spiritual”[i], katanya tak perlu beragama yang penting berkeyakinan.
Lalu sejumlah orang berapologi mengatakan bahwa konflik itu adalah takdir Tuhan. Konflik-konflik karena perbedaan keyakinan sudah terjadi sejak jaman dahulu. Konflik di tubuh Islam sendiri sudah ada dari masa khulafaurrasyiidiin bahkan sampai hari ini masih kerap terjadi. Kita bisa melihat konflik tak berujung antara Palestina dengan Israel, Islam Syiah dan Sunni di Irak, Islam dan Kristen di Serbia, Kristen-Sikh-Islam di India, dan jangan lupa di Indonesia, konflik Ambon dan Poso, serta masih segar dalam ingatan kasus Ahmadiyah dan masih hangat kasus konflik di Sampang.
Memang benar bahwa suatu perpecahan yang diakibatkan oleh agama, keyakinan, golongan adalah sebuah takdir yang telah digariskan Allah.[ii] Perpecahan memang takdir, bukan berarti ini perpecahan golongan harus dalam bentuk konflik fisik dan tidak bisa dihindari[iii]. Konflik tetap bergerak atas sunatullah, hukum alam (hukum Tuhan) yang dapat dipengaruhi oleh akibat campur tangan manusia itu sendiri. Perpecahan kalaupun terjadi, tidak harus bersifat fisikal karena mengingat muatan agama itu tadi, memberikan nilai-nilai luhur. Lalu Jangan karena takdir lantas yang lain hanya membiarkan saja konflik terjadi, padahal agama menyuruh untuk mendamaikan kaum yang berseteru.[iv]
Agama Islam sendiri mengajarkan bahwa agama adalah akhlak yang baik, good attitude, budi pekerti, dan perbuatan baik.[v] Agama mengarahkan kita kepada nilai-nilai ibadah utama yakni bagaimana hubungan kita dengan sesama manusia. Bukankah tujuan utama diutusnya Nabi Saw untuk menyempurnakan akhlak?
Berbuat baik dan berbudi pekerti luhur juga tertuang dalam sabda Sang Buddha ajaran Kalyanamitta. Berbuat baik kepada sesama manusia sebagai salah satu darma, bukan itu saja, tapi juga mengajak manusia serta menghindarkannya dari bentuk kejahatan.
Begitupun kaum Nasrani meyakini bahwa Yesus mengajarkan untuk berbuat baik dan menyelamatkan manusia lain.[vi]
Semua penganut agama memiliki kandungan perintah untuk berbuat baik sesama manusia. Lalu kenapa agama belum dapat memberikan kenikmatan bagi manusia? Ada apa dengan agama? Mungkin saja oknum pemeluknya yang kurang atau tidak memahami ajaran agamanya dengan baik. Bahkan pertikaian se-agama dianggapnya benar dengan dalih membela agamanya. Padahal agama sendiri tak menginginkan pertikaian dengan alasan apapun.
Sebagai penganut agama sepatutnya kita sadar bahwa konflik yang dibiarkan subur terjadi hanya akan mengundang azab Tuhan. Kita mungkin lupa bahwa Nabi Saw sendiri jika menyangkut gangguan terhadap keyakinan agamanya, beliau rela berpe-rang untuk mempertahankannya. Sebaliknya jika menyangkut hal pribadinya beliau rela dilempari batu oleh orang lain tanpa membalasnya. Nah, jangan-jangan masalah-masalah konflik agama dan keyakinan yang muncul di Indonesia pada mulanya hanya disebabkan oleh masalah pribadi!?
Perpecahan dan konflik yang terjadi menunjukkan bahwa orang-orang yang berseteru tersebut masih kurang bersyukur akan nikmat Tuhan. Konflik dan malapetaka timbul karena ketidakpuasan dankurangnya rasa syukur manusia. Manusia sangatlah sulit meraih kepuasan secara total karena kepuasan satu keinginan justru akan menimbulkan keinginan baru.[vii] Orang-orang yang puas dan bersyukur cenderung menjalani hidup tenang damai dan selalu dalam kondisi spiritual. Ini senada dengan adigium China bahwa orang yang puas dengan mengetahui rasa puas adalah orang yang selalu puas (Lao Tze). Jika senantiasa bersyukur maka pasti nikmat akan ditambahkan oleh Tuhan, sebaliknya jika kufur maka tentu akan mendapatkan azab dari-Nya. Jika azab Allah harus datang, maka jangan sampai terjadi di zaman kita ini. Nah, jika keadaan beragama kita masih seperti ini, tentu hanya nilai-nilai “aga-ma kopi” yang bisa menjadi pilihan tepat sebagai modal spiritualitas.
Lalu spiritualitas agama kopi itu seperti apa? “agama kopi” yang dimaksud bukanlah sebagai “lembaga” ataupun “nama” tapi ia adalah ‘nilai’ dan ‘substansi’. Yang ingin mengangkat kembali ke permukaan kesakralan nilai-nilai luhur sebuah agama yang merupakan inti dari semua ajaran agama di alam ini. Dengan meyakini bahwa semua agama meski berbeda-beda namun memiliki esensi yang sama, yakni meyakini adanya satu Tuhan yang disembah.
Penikmat kopi memiliki satu tujuan yang satu, yaitu meraih kenikmatan kopi. Meraih “kopi”. Anda tentu dibolehkan menyebut kopi dengan bahasa masing-masing. Ataupun dengan bahasa buatan hati anda, seperti: Raja Nikmat, Sang Mantap, Sang Maknyus.
Agama yang “kopi” mengajarkan ketauhidan Tuhan. Yang ada hanya satu keyakinan. Yaitu keyakinan pada entitas Yang Satu. Para penganutnya memiliki tingkat kesadaran dan kearifan berspiritual yang tinggi. Mereka semua menyadari esensi Maha Tunggal dengan nama dan cara yang berbeda-beda. Bahwa esensi semua agama itu satu. Menyembah Tuhan Yang Satu. Yang banyak itu hanyalah nama-Nya saja. Orang boleh memanggil Tuhan dengan lidah bahasanya masing-masing. Bukankah itu akan lebih meresap baginya. Ada yang menyebut Tuhan dengan nama Allah, ada yang memanggil dengan nama Hyang Widi, ada yang bermunajat dengan nama Dewata, ada memanjatkan nama-Nya dalam bahasa daerah masing-masing.
Nilai-nilai “agama kopi” merupakan nilai-nilai agama yang universal dan dinamis yang tidak lekang oleh waktu dan masa. Sebagai pembawa kitab suci yang berisi Firman Tuhan tentu dapat diterima dan ditafsirkan oleh seluruh kaum dan bangsa apapun sesuai bahasa kaumnya.
Sepertinya agama perlu bercermin pada “agama kopi”. Agama kopi sendiri disebut demikian karena lahir Indonesia. Ritualnya pun disebut sebagai ritual ngopi. Nilai-nilai ajaran agama kopi jika diajarkan di Turki maka agama kopi tentu dapat berubah menjadi agama qahveh. Bagi bangsa Belanda nilai-nilai agama kopi ada pada agama koffie. Bangsa Arab mengenalnya dalam ajaran agama qahwah. Nilai-nilai luhur ajaran agama sebagai firman Tuhan yang Maha Luas selalu diterjemahkan oleh pembawanya yang terangkum dalam sebuah kitab suci dalam bahasa dan latar belakang tradisi, prilaku, watak dan kebiasaan suatu kaum. Ajaran-ajaran hakekat esensi Tuhan diterjemahkan sesuai dengan bahasa kaumnya.
Nilai-nilai agama kopi menganggap bahwa semua kitab suci adalah kebenaran sebagai lampu penerang hidup yang dibawa para Nabi untuk kaum-nya. Wahyu yang diterima seorang Nabi bukan berupa tulisan. Kitab suci yang tertulis kemudian hadir sebagai bagian dari wahyu yang diterjemahkan oleh para Nabi yang compatible dengan latar belakang dan bahasa kaumnya pada saat itu. Sehingga kehadiran “agama kopi” ingin meneladani kearifan para Nabi dalam menyebarkan Agama Tuhan. Ia menerjemahkan kitab-kitab suci para Nabi dalam bahasa kaum kopi.
Ajaran agama kopi tentu tidak semata-mata beragama dalam konteks sebagai sebuah label atau lembaga. Yang terpenting adalah berkeyakinan dan berpegang teguh pada nilai-nilai luhur dan ajaran agama Tuhan. Karena nama-nama kenyataannya hanya menghasilkan perbedaan, pertentangan, perselisihan dan bahkan bunuh-bunuhan. Di sini penghujatan dan penistaaan tidak akan dijumpai. Dilihat dari tingkah laku penyembahan yang mereka lakukan meski berbeda bahasa dan kaifiyyah-nya, mereka tidak ingin dilabeli dengan nama agama tertentu oleh manusia. Cukuplah Tuhan baginya. Meski mereka belajar dan memiliki bentukan spiritual dari Nabi-nabi yang berbeda, namun mereka hidup berdampingan secara damai, tentram dan sejahtera. Ya, memang begitulah sepatutnya keyakinan mampu membawa penganutnya pada ketentraman, kedamaian dan kese-jahteraan. Masing-masing menjalankan keyakinan-nya dengan saling menghormati dan menghargai. Nilai-nilai agama kopi berkeyakinan untuk tidak memelihara perbedaan label di atas tafsir, opini dan persepsi. Orang bisa saja berpersepsi, beropini, dan menafsirkan, namun sadar bahwa itu bukanlah kebenaran mutlak, tapi hanya kebenaran sementara. Tergantung zaman dan tempat terjadinya. Yang pasti hanyalah kebenaran hakiki Tuhan.
Pada abad ini, nilai-nilai agama kopi sudah banyak lahir dalam wujud yang berbeda dalam diri segelintir pribadi-pribadi. Yah, karena zaman juga sudah berbeda, secara natural manusia akan terus dipengaruhi oleh kondisi zamannya. Pemahaman agama kopi bereinkarnasi di sejumlah pemahaman penganut-penganut agama yang ada di zaman ini. Meski mereka berjalan di atas rel syariah agama masing-masing. Nilai-nilai agama kopi sebagai agama luhur telah hadir di hati mereka.
Meskipun manusia diregulasi oleh label agama masing-masing, namun kesadaran agama kopi tetap lahir pada pribadi pribadi penganut agama di tengah kemajemukan keberagamaan dan pesatnya perbedaan-perbedaan golongan. Nilai-nilai Agama kopi dapat diidentifikasi pada mereka-mereka dalam menjalani agamanya.
Lihat saja bagaimana nilai-nilai agama kopi yang ada pada seorang penganut agama. Dapat dijumpai dari sebagian mereka yang memiliki pandangan dan kesadaran yang tinggi terhadap perbedaan agama, mereka sadar bahwa kebenaran hakiki Tuhan dapat diraih melalui agama-agama apapun yang telah diturunkan kepada para Nabi. Agama adalah pilihan. Kita bebas memilih jalan, syariat, tarekat yang ingin ditempuh untuk meraih Tuhan. Tentu pilihan ini berdasarkan pengaruh kondisi psikologis masing-masing yang terbangun sejak lahir. Entah dengan memilih salah satu dari jalan, syariat, tarekat yang sudah ada kemudian dianggap paling sesuai dapat mengantarkan diri kita mencapai Tuhan. Ataukah ingin menempuh jalan, syariat, tarekat dengan jalan yang berbeda. Sepanjang jalan itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur ketuhanan dan kemanusiaan, terserah anda!
Jika anda setuju dengan saya, maka nilai-nilai “agama kopi” ada pada diri anda. Apapun jenis agama yang anda anut. Kemunculan agama kopi bukanlah sebagai sebuah “lembaga agama” akan tetapi ia lahir sebagai sebuah simbol dari nilai-nilai luhur semua agama. Jika anda tidak setuju, maka perlakukanlah agama sebagai sebuah nilai-nilai luhur yang lebih baik dari KOPI.
[i] Istilah ini diadaptasi dari buku Psikologi Agama (2004), h.31
[ii] Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).” ( QS. Al An’am, ayat 65)
[iii] Sebuah taqdir dapat dihindari seperti kisah berikut: Ketika Sayyidina Umar dan beberapa sahabat dalam perjalanan musa-fir ke negeri Syam. Di tengah perjalanan mereka mendengar bahwa negeri Syam sedang berjangkit penyakit menular yang berbahaya. Maka Sayyidina Umar dan beberapa orang sahabat membatalkan perjalanan itu dan ingin kembali ke Madinah, sementara amir perjalanan itu berkeras untuk meneruskan perjalanan. Sang Amir bertanya, “Hai Umar, apakah engkau mau lari dari taqdir Allah?”. Dengan tegas Sayyidina Umar menjawab, “Ya, saya lari dari taqdir Allah yang tidak baik, kepada taqdir Allah yang baik!”. Akhirnya seluruh rombongan Sahabat yang menuju Syam wafat, sedangkan yang kembali ke Madinah semuanya hidup.
[iv] Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al Hujuraat, ayat 9).
[v] Rasulullah Saw, pernah ditanya oleh seorang laki-laki, “ya Rasullullah, apakah agama itu?” Rasulullah Saw bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi Saw, dari sebelah kanannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Beliau bersabda, “akhlak yang baik.” Kemudian ia menda-tangi Nabi Saw. dari sebelah kirinya, “apakah agama itu?” Beliau bersabda, “akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi-nya dari belakang dan bertanya, “apakah agama itu?” Rasulullah Saw menoleh kepadanya dan bersabda, “belum jugakah kau mengerti? Agama itu akhlak yang baik. Sebagai misal, janganlah engkau marah.” (Al-Targhib wa Al-Tarhib, 3:405).
[vi] Lalu Yesus berkata kepada mereka: “aku bertanya kepada kamu: manakah yang diperbolehkan pada hari sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Perjanjian Baru, Lucas 6:9 )
[vii] Wang Keping (2011).
Sumber:
- Penulis: Andi Sumangelipu
- Judul Buku: Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas
- ISBN: 978-602-177716-0-0
- Penerbit: CV. Aquila
- Tahun: 2013
- Hal: 23-36
Sitasi Apa Style:
Andi Sumangelipu. (2013). Agama Kopi: Menyingkap Realitas Ceruk Spiritualitas. Sengkang: CV Aquila.