Manusia Takwa
Oleh: Andi Sumangelipu
“…Bawalah bekal karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah Taqwa. Dan bertaqwalah kepadaku wahai orang-orang yang berakal (berhati bersih).” (QS. Albaqarah, ayat 197)
Sepanjang sejarah manusia, telah diutus para Rasul dan Nabi yang kesemuanya diperintahkan Allah untuk mengajarkan dan membimbing umatnya menuju manusia-manusia takwa yang paripurna.
“Itulah kitab (Alqur’an) tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah ayat 2)
Yang tidak hanya terdapat pada Alqur’an tapi juga sudah pernah diperintahkan kepada kitab-kitab sebelumnya. (QS. Al Baqarah ayat 4)
“Dan Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang yang diberi kitab suci sebelum kamu dan juga kepadamu agar kalian bertaqwa.” (QS. An Nisa’ ayat 131)
“Dan Kami teruskan jejak mereka dengan mengutus Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya yaitu Taurat. Dan Kami menurunkan Injil kepadanya, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya dan membenarkan kitab sebelumnya yaitu Taurat, dan sebagai petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang bertaqwa.” (QS. Al Maidah ayat 46)
”Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun, Alfurqan (Kitab Taurat) dan penerangan serta pelajaran bagi orang-orang bertaqwa.
Alqur’an menjelaskan bahwa ajaran-ajaran agama telah mengajarkan manusia untuk mencapai kesempurnaan sebagai manusia taqwa sudah ada sejak dahulu kala yang dibawa oleh para Nabi sebelum Nabi Muhammad Saw.

Definisi
Patut kita syukuri, bahwa nenek moyang kita dahulu memilih kata yang luar biasa untuk menyebut saya, anda, mereka dan kita semua sebagai Manusia. Betapa tidak, Psikolinguistik mengajarkan bahwa tabiat seseorang tercermin oleh kata-kata (bahasa) yang digunakan ( Taufiq pasiak, 2006. Hal.180). Kata manusia yang sering kita gunakan berasal dari bahasa Sangsekerta yang terdiri dari kata manu atau mana (yang berarti pikiran, bathin) dan ussa (yang berarti luhur, tinggi). Di sini mencerminkan bahwa insan Nusantara bertabiat agung yang memiliki bathin yang berkeluhuran dan berkesadaran yang tinggi. Jika begitu, tidak salah jika dikatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari insan-insan yang paripurna. Yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur. Manusia Taqwa (mungkin hanya dahulu, karena era kekinian kita sudah jarang saling me-manusia-kan).
Taqwa adalah wujud dari insan kamil. Manusia paripurna.
Ketika Tuhan berfirman “ wahai anak anak cucu adam! Sesungguhnya kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian taqwa itulah yang lebih baik (QS.Al A’raf ayat 26).
Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah kalian saling menghasut, jangan saling menipu, jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jangan kalian membeli suatu barang yang (akan) dibeli orang. Jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, tidak layak untuk saling menzhalimi, berbohong kepadanya dan acuh kepadanya. Taqwa itu ada disini (beliau sambil menunjuk dadanya 3 kali). Cukuplah seseorang dikatakan jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Haram bagi seorang muslim dari muslim yang lainnya, darahnya, hartanya, dan harga dirinya” (HR. Muslim)
Isyarat Rasulullah Saw pada dadanya tiga kali, menjelaskan betapa taqwa itu deepest inside yang mungkin jauh ke dalam lubuk hati. Begitu dalam makna taqwa sehingga Nabi Saw hanya menjelaskannya lewat isyarat.
Satu yang pasti bahwa taqwa dan hidayat itu anugerah Tuhan (QS. Muhammad ayat 17). Dan hidayah itu hanya diberikan kepada orang-orang pantas menerimanya. Faqaddara fa haddaa, yang diberi hidayat itu berdasarkan kepantasan qadar seseorang. Umpama seseorang yang ingin diberi hidayat sebesar ember, sedangkan qadar kepantasan yang dimilikinya sebesar gelas, maka tentu yang diterima hanya sesuai ukuran qadar “gelasnya” dan sisanya akan tumpah. Sehingga untuk meraih Taqwa maka manusia harus terus memperdalam ilmu dan amaliahnya untuk memantaskan dirinya dalam meraih hidayah taqwa yang tak terhingga besarnya. Sebesar apapun manusia membangun kepantasan qadar taqwa pada dirinya, maka sebesar itu pulalah qadar taqwa yang dihidayahkan Allah padanya.
Manusia Sempurna (Taqwa) bagi Agama Lain
Nasrani
Ajaran Manusia Taqwa Paripurna dikenal dalam kalangan kaum Nasrani sebagai Imago Dei (image of God), dimana manusia sadar bahwa Allah adalah Ruh, manusia pun demikian memiliki unsur Ruh Tuhan yang diberikan kepadanya diawal penciptaan. Dimensi ruhani (ruhiyyah) yang menentukan ke-khas-an manusia diciptakan dari manifestasi sifat Tuhan. Hal ini memiliki kesamaan dalam ajaran Islam yang menyatakan bahwa manusia diciptakan dari tiupan Ruh Tuhan.“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (Qs. AlHijr, ayat 29)
Sehingga kaum Nasrani meyakini bahwa jika ingin mencapai kesempurnaan (imago dei), maka harus menyembah Tuhan dalam Ruh.
“Allah itu Ruh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam Ruh dan kebenaran.” (Yohanes 4:24)
Firman di atas menggambarkan bahwa Allah hanya dapat dicapai dalam kondisi Ruh (Ruhiyyah). Dan kondisi ini tidak serta merta dapat dilakukan jika melihat manusia yang masih terikat (tidak bebas) dari kondisi badaniah dan jiwa kemanusiaannya.
Buddha
Ajaran untuk mencapai kesempurnaan manusia sebagai manusia ideal dikenal dalam berbagai aliran/mazhab ajaran agama Buddha. Dalam ajaran Tantrayana, manusia sempurna disebut sebagai orang suci Siddha. Aliran Tantra menganggap manusia dan alam memiliki kaitan yang erat, tidak terpisahkan satu sama lain. Manusia merupakan mikrokosmos yang mewujudkan makrokosmos seluruh alam semesta yang merupakan perantara untuk mencapai kebenaran. Sehingga seorang Siddha dianggap menguasai kemampuan magis, ia mampu menggunakan kekuatan-kekuatan alam, baik di dalam maupun di luar dirinya yang dicapai melalui jalan pembebasan diri dari segala kekotoran bathin dengan memadukan amalan prajna (kesunyataan) dan welas asih.
Hindu
Manusia paripurna memiliki kesadaran puncak eksistensi dirinya. Kondisi kesadaran Puncak Diri (the Ultimate Self) dalam agama Hindu disebut sebagai Atman. Dalamkitab suci Veda sendiri memberi makna pada Atman sebagai napas, jiwa atau yang mutlak. Manusia yang masih terjebak dengan penampakan fisiknya yang terbatas pada ego individu, maka Atman sebagai diri sejati yang ada dalam dirinya terlupakan. Sehingga untuk menemukan kembali diri sejatinya maka manusia harus terbebas dari kekotoran bathin dan menyebarkan cinta (ananda) agar mampu memandang semesta sebagai suatu entitas yang satu.
Anti Taqwa
Jiwa manusia telah dibentuk Allah untuk mampu menerima dua jenis potensi yaitu potensi Taqwa sekaligus potensi Anti-Taqwa. Fa alhamahaa fujuurahaa wa taqwaahaa (QS. Asy Syams ayat 8). Jiwa manusia itu diilhamkan oleh Allah berupa ketaqwaan dan kejahatan (fujuur) sekaligus, agar manusia dapat memilih bagian yang mana yang akan dipilihnya. Manusia telah diberikan hak pilih oleh Allah terhadap potensi-potensi yang dimiliki jiwanya.
Secara gamblang Alqur’an kemudian menjelaskan bahwa fujur inilah yang kemudian menjadi anti taqwa itu.
“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang fujjar (jahat)?”(Qs. Shad ayat 29).
Orang-orang yang bertaqwa itu mutlak berlawanan dengan orang-orang yang berbuat kerusakan (mufsid) dan orang-orang jahat (fujjar) sebagaimana sindiran ayat di atas. Lihatlah bagaimana Alqur’an kembali menggunakan kata fujjar yang se-wazan dengan kata fujur sebagai anti-taqwa. Artinya meski seseorang mengaku beriman kepada Allah lalu tindakan-tindakannya membuat fasad kerusakan di muka bumi maka yakin seyakin-yakinnya bahwa orang itu fujjar dan jauh dari mendapatkan hidayah taqwa. Bahasa kerennya nggak mungkin!.
Munculnya para mufsidin yang membuat keonaran, kerusakan dan teror di muka bumi yang damai ini juga pernah dikhawatirkan dan diprediksi oleh para Malaikat sehingga “menginstrupsi” Allah pada saat awal akan diciptakannya Nabi Adam As.
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. Al Baqarah ayat 30)
Para Malaikat pada waktu itu tidak mengetahui sebelumnya bahwa Allah telah mengilhamkan manusia berupa taqwa dan fujur melalui jiwa mereka. Di antara mereka yang membuat kerusakan di muka bumi, juga akan muncul manusia Taqwa yang senantiasa melakukan perbaikan.
Ciri dan Sifat Manusia Takwa
“Predikat Manusia Taqwa Paripurna adalah ijazah Tuhan bagi orang-orang spesial (khas) yang senantiasa mendekatkan diri pada-Nya. Sehingga kondisi taqwa pada diri manusia hanya Tuhan yang tahu. Manusia hanya bisa “meraba” ketaqwaan manusia lain dengan melihat ciri dan sifat-sifat manusia taqwa itu berdasarkan informasi yang ada dalam kitab-kitab suci”
Menyebar Kebajikan
“Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelang-garan. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al Maidah ayat 2)
Memberi Maaf
“……dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah, ayat 237)
Berlaku Adil
“ Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi yang adil. Berlaku adillah. Karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Mahateliti pa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maidah, ayat 8)
Menepati Janji
“Sebenarnya, siapa yang menepati janji dan bertaqwa, maka sunggguh Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imran, ayat 76)
Melihat Kesalahannya
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari syetan, mereka pun segera ingatkepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).” (QS. Al A’raf, ayat 201)
Berkata Benar
“Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An Nisaa, ayat 9)
Bersabar
“Sesungguhnya siapa yang bertaqwa dan bersabar, maka sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf, ayat 90)